Webinar Nasional

Webinar Nasional: Pendekatan Inovatif Pencegahan Stunting

Membawa pencegahan stunting lebih dekat dengan keluarga melalui ilmu, komunikasi yang hangat, data, dan kolaborasi.

16–17 April 2026 PERSAGI Provinsi Kalimantan Timur

Upaya mencegah stunting tidak cukup dilakukan ketika seorang anak sudah mengalami hambatan pertumbuhan. Pencegahan perlu dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak remaja, masa prakonsepsi, kehamilan, hingga dua tahun pertama kehidupan. Karena itu, webinar nasional bertema Pendekatan Inovatif Pencegahan Stunting menjadi ruang belajar untuk melihat persoalan stunting secara lebih utuh, manusiawi, dan dapat diterapkan di lapangan.

Fokus utama agenda: membantu peserta menghubungkan bukti ilmiah dengan langkah sederhana yang dapat dilakukan bersama keluarga, tenaga kesehatan, kader, sekolah, pemerintah daerah, dan komunitas.

Mengapa pendekatan inovatif diperlukan?

Stunting bukan hanya tentang tinggi badan. Kondisi ini berkaitan dengan kecukupan gizi, kesehatan ibu, pola pengasuhan, sanitasi, akses terhadap pelayanan kesehatan, keamanan pangan, serta keadaan sosial ekonomi keluarga. Ketika intervensi hanya berfokus pada satu aspek, hasilnya sering tidak bertahan lama. Pendekatan inovatif dibutuhkan agar setiap program mampu membaca kebutuhan masyarakat secara lebih tepat dan tidak sekadar mengulang kegiatan yang sama.

Inovasi juga tidak selalu berarti teknologi yang rumit. Inovasi dapat hadir melalui cara komunikasi yang lebih mudah dipahami, pendampingan keluarga yang konsisten, pemanfaatan data lokal, penguatan rujukan, sampai kolaborasi antarprofesi. Yang terpenting, gagasan tersebut dapat dijalankan, diukur, dan memberi manfaat nyata.

Intervensi sejak dini

Membahas pentingnya gizi remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita sebagai satu rangkaian yang saling berhubungan.

Data untuk keputusan

Mendorong penggunaan data pertumbuhan, konsumsi, dan kondisi keluarga untuk menentukan prioritas pendampingan.

Komunikasi yang membumi

Menyampaikan pesan gizi tanpa menghakimi agar keluarga merasa didampingi dan lebih percaya diri melakukan perubahan.

Kolaborasi lintas sektor

Menghubungkan peran ahli gizi, bidan, dokter, kader, sekolah, pemerintah, serta tokoh masyarakat.

Materi yang relevan bagi praktik sehari-hari

Agenda ini memuat lebih dari tiga bahasan yang dapat dikembangkan dalam pelayanan maupun program komunitas. Peserta diajak memahami cara mengidentifikasi faktor risiko, merancang edukasi yang sesuai kelompok sasaran, serta mengevaluasi perubahan secara bertahap. Pembahasan juga menekankan bahwa setiap daerah memiliki tantangan berbeda, sehingga pendekatan harus tetap peka terhadap kebiasaan makan, ketersediaan pangan, budaya, dan kemampuan keluarga.

Siapa yang dapat mengambil manfaat?

  • Ahli gizi dan tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan.
  • Dosen, mahasiswa, peneliti, serta pengelola program gizi masyarakat.
  • Kader, pendamping keluarga, organisasi profesi, dan komunitas.
  • Pemerintah daerah serta mitra yang terlibat dalam percepatan penurunan stunting.

Belajar tanpa kehilangan empati

Pencegahan stunting perlu dilakukan tanpa menyalahkan keluarga. Banyak keputusan makan dipengaruhi oleh waktu, pendapatan, akses pangan, pengetahuan, dan dukungan di rumah. Ahli gizi memiliki peran penting untuk membantu keluarga menemukan pilihan yang paling mungkin dilakukan, bukan sekadar memberikan daftar larangan.

Melalui agenda pada 16–17 April 2026 ini, peserta diharapkan memperoleh sudut pandang baru sekaligus bahan praktis untuk memperkuat pelayanan. Informasi pada halaman ini merupakan artikel pendamping agenda. Jadwal, sertifikat, rekaman, dan mekanisme keikutsertaan dapat menyesuaikan kebijakan penyelenggara.